Home / Pengajian Tafsir Jalalain / Hidayah dan Warisan Kitab Suci Untuk yang Sabar Dalam Menjalankan Ketaatan Kepada Allah (Tafsir Surat Mukmin/Ghafir 53-56)
alquran

Hidayah dan Warisan Kitab Suci Untuk yang Sabar Dalam Menjalankan Ketaatan Kepada Allah (Tafsir Surat Mukmin/Ghafir 53-56)

Penulis: Ust. Dr. K. Asmawi Mahfudz, M.Ag.Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israel (53),  untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir (54)  Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi (55). Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (56).

 

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari penjelasan ayat al-Qur’an sebelumnya yang menjelaskan tentang pertolongan Allah bagi rasul-rasulnya dan orang-orang yang beriman baik di dunia maupun di akhirat. Pada ayat 53-54 di atas di jelaskan bentuk dari pertolongan Allah kepada Rasulnya (Musa As) adalah diberikannya petunjuk (al-Huda) berupa taurat dan beberapa mu’jizat, sedang kepada bani Israil Allah memberikan al-Kitab (taurat). Keduanya (al-huda dan al-kitab) berfungsi sebagai sesuatu yang menunjukkan kepada jalan yang benar dan yang memberi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Pertolongan Allah yang tertuang dari dua ayat berupa pemberian hidayah kepada Musa dan kitab taurat kepada bani Israil dapat dipahami bahwa hidayah Allah hanya diperuntukkan kepada orang yang beriman dan membenarkan kepada ajaran Allah, dan bisa jadi berfungsi sebaliknya bagi orang yang ingkar atau kafir. Hidayah Allah merupakan halangan bagi mereka-mereka yang menentangnya. (al-Shawi,Hasyiyah al-Shawi al-Maliki, Beirut: Dar al-Fikr, 2002), IV, 14-15. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan petunjuk kebenaran  (huda) dan mewariskan kepada bani israil yakni tanah airnya Fir’aun, hartanya, penghasilannya disebabkan kesabaran mereka untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, mengikuti rasulnya Musa AS. Hal ini dapat diambil pelajaran bagi mereka-mereka yang mempunyai akal yang sehat (al-uqul al-shahihah). (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Syirkah Nur Asia, Tt, IV, 84).

Setelah mengetahui bahwa pertolongan Allah diberikan kepada Rasulnya, baik di dunia maupun di akhirat, maka ayat 55, selanjutnya Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad Saw.untuk bersabar dalam menghadapi perlawanan dari orang-orang kafir sampai datangnya pertolongan Allah. Kemudian Allah juga memerintahkan kepada nabi untuk memintakan ampun kepada umatnya, supaya ajaran Muhammad diikuti oleh umat-umatnya. Dan perintah selanjutnya adalah supaya menjalankan sholat dengan memuji Allah Swt  pada waktu matahari telah condong ke barat dan pagi hari (bi al-isyi wa al-ibkar) sebanyak lima kali.

Pada ayat 56 Allah memberikan penjelasan tentang bantahan dan pertentangan yang dilakukan orang-orang kafir itu disebabkan oleh kedengkian dan kesombongan mereka kepada Muhammad.

” Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (56)

Dengan kedengkian dan kesombongannya itu tujuan mereka orang kafir tidak akan dapat terlaksana untuk menghalangi dan menentang ajaran-ajaran yang di bawa Muhammad. Untuk itu Allah memerintahkan untuk meminta perlindungan kepadanya supaya terjaga dan diselamatkan dari tipu daya kafir. Dia Allah dzat yang maha mendengar terhadap permohonan hambanya, dan maha melihat kepada rekayasa atau tipudaya kafir. (al-Suyuti, Tafsir jalalayn, dan al-Shawi,Hasyiyah al-Shawi al-maliki, Beirut: Dar al-Fikr, 2002), IV, 14-15.

Dari empat ayat di atas dapat diambil pelajaran bahwa pertolongan Allah untuk orang yang beriman adalah dengan diberikannya hidayah dan kitab pedoman hidup, sebagai pegangan dalam memperoleh kebenaran dalam beriman dan beribadah kepada Allah Swt. Hal ini dapat diwujudkan dengan menggunakan akal yang sehat. Di samping itu Allah juga memerintahkan untuk sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, meminta ampun kepadanya, juga menjalankan shalat lima waktu, karena janji Allah untuk menolong hamba-hamba yang beriman pasti akan datang. Dan selanjutnya Allah memberikan gambaran bahwa apa yang dilakukan orang-orang kafir dengan menentang kebenaran yang dibawa Muhammad disebabkan karena kedengkian dan kesombongan mereka. Untuk itu Allah memerintahkan untuk berlindung kepadanya supaya Allah menjaga orang –orang yang beriman dari tipu daya orang-orang kafir. Karena Allah dzat yang maha mendengan permohonan hamba-hambanya yang beriman yang selalu sabar dalam menjalankan ketaatan kepadanya dan maha melihat rekayasa dan tipudaya orang kafir. Dengan demikian orang yang beriman tetap dalam perlindungan Allah di dunia maupun di akhirat kelak. Wa Allahu A’lamu bi al-Shawab! (Disampaikan dalam majlis pengajian Tafsir Jalalayn Pondok Pesantren al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar Jawa Timur, Jum’at malam sabtu 22 maret 2013).   

Tentang penulis: Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar dan menjadi  pengajar di Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung.

Check Also

Sujud-Tilawah-Dan-Syukur

Kewajiban Menyembah Allah Tanpa Kemusyrikan: Tafsir Surat Ghafir (al-Mukmin: 40, 13-15)

Penulis: Ust. Dr. K. Asmawi Mahfudz, M.Ag, Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com