Home / Goresan Santri / Cerpen: Ternyata Aku Salah Menafsirkannya
Gambar ilustrasi (Google)

Cerpen: Ternyata Aku Salah Menafsirkannya

Oleh: Umi Masruroh*

Sore hari sudah tiba. Penghuni perut ini rasanya sudah mulai berdendangan. Aku berusaha untuk kuat dan menahan rasa lapar. Pulang sekolah, aku melewati jalan raya yang penuh dengan asap kendaraan. Waktu di dalam bus, aku berusaha dengan sekuat tenaga menahan emosi.

Ada seorang laki-laki yang sepertinya sedang terburu-buru. Ia langsung masuk ke dalam bus dan mendesak-desak orang karena ia tidak dapat tempat. Dari belakang aku melihat dan memperhatikannya. Kalau dilihat-lihat sih, laki-laki itu tampangnya cukup lumayan untuk dipandang. Ia masih muda. Ia mendesak seorang ibu yang sedang berdiri hingga ibu itu hampir jatuh ke lantai. Aku hampir saja beranjak dari tempatku untuk membentaknya. Untungnya, aku tak keterusan dan masih bisa menahan emosi. Pemuda itu berhenti pada sebuah rumah sakit Islam. Aku tidak memperdulikannya. Aku melihat jam tanganku sudah pukul 16.00 WIB. Itu artinya aku harus cepat-cepat sampai di rumah untuk menyediakan makanan buat keluarga.

Sesampainya di rumah, aku melihat pemandangan rumahku bagaikan padang pasir. Sudah lelah, capek, perut keroncongan, tidak ada orang rumah yang mau membersihkan. Aku langsung memasuki kamarku, dan melepas lelah untuk sejenak saja, hingga aku ketiduran hampir satu jam. Bangun-bangun jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB dan aku belum masak. Setelah sholat ashar, langsung saja aku beranjak ke dapur belakang. Andin adikku melihat aku berada di dapur. Karena tak tega aku bekerja sendirian, ia pun membantuku memasak. Semua sudah selesai dan siap. Kurang lima menit lagi adzan maghrib akan berkumandang.

Aku memanggil ayah untuk siap-siap menuju ke ruang makan. Kami makan cuma bertiga saja, soalnya ibuku sudah meninggal satu tahun yang lalu dan kakakku pergi merantau ke negeri orang lain. Adzan pun berkumandang. Kami semua secara serentak mengucapkan alhamdulillah dan berdoa bersama yang dipimpin oleh ayah. Selesai berbuka, kami langsung mengambil air wudhu dan sholat maghrib berjamaah. Selesai sholat maghrib kami semua berkumpul di ruang tamu untuk menunggu takbiran berkumandang. Aku keluar rumah. Dari kejauhan aku mendengar pujian-pujian sedang dilantunkan. Langsung saja aku heboh masuk ke dalam rumah memberi tahu keluargaku kalau takbir sudah berkumandang. Ayah mengajak takbiran bersama-sama hingga larut malam.

Pagi harinya, aku siap-siap menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat Idul Adha. Tak lupa ayah mengorbankan kambingnya. Sampai di masjid, aku tersentak dengan sebuah pemandangan yang sepertinya aku pernah melihatnya. Oh iya, aku ingat, itu adalah laki-laki yang berada di bus kemarin. Ternyata ia melaksanakan sholat Idul Adha di masjid dekat rumahku. Itu artinya rumahnya di sekitaran sini. Tapi, aku tak pernah melihatnya. Aku menanyakan pada salah seorang yang berada di sampingku. Ternyata dia bukan penduduk sini, tapi pendatang baru. Namanya Saiful Amin.

Sholat Idul Adha sudah selesai. Dia menghampiriku, dan meminta maaf atas sikapnya kemarin yang tak tahu diri itu. Aku bertanya kenapa dia minta maaf kepadaku, harusnya kan sama orang yang ia desak kemarin. Saiful tahu kalau kemarin aku memperhatikannya, dan tidak suka atas sikap dan perbuatannya. Setelah itu kami berkenalan dan bercerita kenapa dia kemarin seperti itu. Ternyata, kemarin itu dia terburu-buru karena harus cepat-cepat menolong ibunya yang sedang sakit. Dia bekerja seharian untuk membiayai pengobatan ibunya dan sekolah adiknya yang masih duduk di bangku SD. Mendengarkan cerita itu, aku jadi merasa kasihan dan bersalah kepadanya. Aku menanyakan di mana ia tinggal sekarang. Katanya, ia tinggal bersama Bu Inah. Bu Inah adalah seorang tetanggaku yang sangat kaya dan juga dermawan. Saiful bekerja di rumah Bu Inah. Setiap sore ia pulang ke rumahnya untuk menjaga ibunya.

Di rumah aku menyiapkan bumbu-bumbu buat daging qurban nanti. Ayah pulang dengan membawa daging qurban cukup banyak. Rasanya tidak mungkin habis dimakan oleh tiga orang saja. Terlintas di pikiranku untuk memberikan sebagian daging itu kepada Saiful. Aku langsung memasak gulai kambing. Masakan pun sudah matang. Aku menyisihkan sebagian gulai untuk kubawa ke tempat Saiful. Sejak saat itu kami berteman dengan baik.*

Penulis :
Umi Masruroh
, lahir di Tulungagung, 15 Januari 1994. Putri pasangan M. Ilyas dan Siti Saromah ini nyantri di Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal (PPTA) tahun 2009-2012, serta bersekolah di MAN Kunir. Bertempat tinggal di Dsn. Krajan Rt 02 Rw 02 Ds. Karangsono Kec. Ngunut  Kab. Tulungagung 66292. Dia sudah dipanggil Sang Maha Pencipta pada Rabu, 12 September 2012 lantaran kecelakaan lalu lintas. Cerpen “Ternyata Aku Salah Menafsirkannya” ini ditulisnya untuk Lomba Mengarang Cerpen Idul Adha di Firqoh Al Munawaroh pada Jum’at, 27 November 2009 / 10 Dzulhijjah 1430 H pukul 09.00-10.00 WIB, saat dia masih duduk di kelas 1. Semoga satu-satunya karya tulis semasa hidupnya ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan penulisnya selalu mendapatkan rahmat Allah SWT. Sehabis baca cerpen ini, hadiahkan sepucuk lantunan Surat Al Fatihah untuknya. Alfatihah….

Check Also

Cerpen: Byoh…Byoh-nya Emak

Oleh: Lucky Tjatra Brillian* Malam itu hujan deras mengguyur desa kecil Emak. Aku yang tergopoh-gopoh …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com