Home / Goresan Santri / Cerpen: FOR LIFE
Google Picture

Cerpen: FOR LIFE

Written by A-Roon Sha*

A mystery came to me, with a face of an angel
Your warmth, the only one who loves you,
Staying by your side
Is that me?
In the cold winter morning, And a bit lonely in the night
We’re here together
The darkness has changed to light with you, tonight
An unbelievable miracle

“Haruka-chan!!”,
Haruka mengernyit kaget ketika seseorang berseru di hadapannya. Dekat sekali.
“Kau sudah sadar! Dokter! Dokter!” Gadis itu berseru sekali lagi,  lalu segera berlalu keluar. Entah kemana. Meniggalkannya sendirian.
‘Apa yang terjadi?’ Benaknya bertanya. Sedetik kemudian barulah ia sadar bahwa ia sedang berada di dalam ruangan yang sudah tak asing lagi baginya. Ruangan yang beberapa bulan terakhir ini kerap dikunjunginya.
‘Kenapa aku disini? Apa lagi yang terjadi?’ Benaknya mulai bertanya-tanya kembali. Sebelum otaknya sempat berpikir, seorang dokter laki-laki muda tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Serta seseorang yang membuntuti di belakangnya. Gadis itu. Gadis pertama kali yang ia lihat setelah kesadarannya memulih.
“Syukurlah kau sudah sadar. Jantungmu kembali melemah, Haruka-san. Kau ditemukan jatuh pingsan di toilet perempuan sekolah oleh temanmu ini.” Dokter itu berujar seraya memeriksa kondisi detak jantungnya sekali lagi.
Ya, gadis itu. Gadis yang sudah setengah tahun ini menemaninya sebagai seorang sahabat. Ia masih mengenakan seragam sekolah. Seragamnya kusut. Rambutnya berantakan. Ah, ia pasti sangat merepotkan gadis itu untuk kesekian kalinya. Sungguh, ia sangat beruntung telah menemukan malaikat tak bersayap itu.
“Terima kasih banyak, Naomi-chan. Maaf. Aku selalu saja merepotkanmu. Bahkan di hari-hari menjelang ujian seperti ini.”
Gadis yang dipanggil Naomi itu tersenyum manis seraya menggenggam tangannya yang lemah.
“Bukankah itu gunanya seorang sahabat? Kau harus segera sehat, Haruka-chan! Kita harus berjuang bersama  untuk ujian semester kali ini.”
Haruka mengangguk. Mereka tertawa bersama. Tawa sepasang sahabat.
*****
Cuaca hari ini cerah. Dedaunan mulai berguguran. Musim panas akan segera berakhir, tergantikan oleh musim gugur yang menenangkan. Gadis itu, Haruka Nakagawa, duduk termenung sendirian di bangku taman rumah sakit. Ia bosan. Bosan sekali. Bosan dengan kehidupannya yang membosankan. Bosan dengan penyakitnya yang membosankan.
Ya, penyakit jantung lemah itu mulai menyerangnya akhir-akhir ini. Seminggu di rumah, sebulan di rumah sakit. Begitulah rutinitasnya. Ia bahkan tak yakin, apakah ia masih bisa berjuang bersama dengan Sato Naomi untuk ujian bulan depan. Ia sudah lelah dengan penyakitnya. Bukankah lebih baik bila ia menyerah saja?
Melamun. Menatap dedaunan yang mulai berguguran. Menatap guratan senja di atas awan. Itulah yang dilakukannya sepanjang sore. Rutinitas yang dilakukannya setelah Naomi beranjak pergi dari menjenguknya dan membawakan catatan pelajaran.
Karena hanya itulah yang dapat membuatnya tersenyum selain karena gurauan Naomi. Karena hanya hal itulah yang dapat menghibur hatinya selama ini. Karena hanya hal itulah yang membuatnya lupa akan penyakitnya. Kerena hanya hal itulah yang dapat membuatnya lupa akan tempat yang selalu dibencinya ini.
Karena hanya musim gugur. Dengan angin lembut yang selalu meliuk-liukkan rambut coklatnya. Dengan dedaunan gugur yang selalu bisa mencuri perhatiannya.
“Hai,”
Seseorang memotong jalan pikirannya. Mengganggu rutinitasnya yang menenangkan untuk menyambut senja. Ia menoleh sekilas. Mendapati seorang lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Ia mengenakan pakaian kasual. Bukan pasien, rupanya.
“Boleh aku duduk ?”
Haruka tersenyum sopan dan menggeser duduknya. Ia kembali menikmati rutinitasnya. Menanti mentari yang akan segera kembali ke peraduannya.
“Beberapa hari ini aku selalu melihatmu disini. Apa yang kau lakukan?”
Haruka hanay tersenyum, kemudian menggeleng. Matanya tak melihat lelaki itu sekali pun.
“Apakah itu menyenangkan?” Lelaki itu memulai percakapan.
Haruka menoleh,
“Apa?” ini adalah suara pertamanya sejak lelaki itu datang
“Menikmati musim gugur. Apakah itu menyenangkan?” Lelaki itu bertanya ragu.
“Kenapa tidak?” Haruka bertanya heran.
“Eh, aku tak pernah menyukai musim gugur. Aku membencinya….sekali.” Lelaki itu menjawab canggung. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kenapa?” Haruka mengernyit. Bagaimana mungkin seseorang tidak menyukai musim gugur? Bagaimana mungkin seseorang tidak menyukai hembusan angin yang lembut dan daun kecoklatan yang bergemerisik khas musim gugur? Ia tak mengerti.
“Aku rasa, kejadian menyedihkan yang kualami selalu terjadi di musim gugur,” Mata lelaki itu menerawang. Ikut menatap dedaunan yang berjatuhan.
“Oh, maaf. Aku tak bermaksud…”
“Tidak. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,” Lelaki itu tersenyum. Memotong pernyataan Haruka. Gadis itu tersenyum kikuk. Suasana berubah canggung.
“Omong-omong, kita belum saling berkenalan. Aku Sujiyama. Tatsutya Sujiyama,” Lelaki itu memperkenalkan diri.
“Haruka Nakagawa,” gadis itu menjawab tanpa perlu menolehkan kepala menatap lelaki disampingnya itu.
“Senang berkenalan denganmu, Nakagawa-san,”
Haning. Tak ada suara lagi selain gemerisik dedaunan dan hembusan angin. Mereka duduk dengan pikiran masing-masing. Manikmati senja dalam kesunyian.
*****
Semenjak hari itu, lelaki berponi lempar bernama Tatsuya Sujiyama selalu menemukan Haruka duduk sendirian. Ia akan tersenyum, menghampirinya, menyapanya sekilas, lalu ikut duduk disamping gadis itu. Kemudian mereka akan tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga seorang perawat mengajak Haruka untuk kembali masuk ke dalam ruangannya.
“Kenapa kau menyukai musim gugur?” Tanya Sujiyama pada suatu hari. Entah, ia tak tahan melihat Haruka yang selalu terdiam.
Gadis itu tersenyum. Pandangannya tak pernah berubah. Melihat pohon maple di seberang dengan dedaunan kecoklatan.
“Kenapa tidak? Jika musim gugur dapat menenangkan pikiranmu. Jika musim gugur dapat melupakan seluruh hari menyakitkan dalam hidupmu.”
Hening. Sujiyama mulai mengerti arah pembicaraan Haruka.
“Aku sama sepertimu, Sujiyama-san. Kejadian menyedihkan yang kualami juga selalu terjadi di musim gugur. Menyakitkan, memang. Jika kau melihat musim gugur dengan membwa ingatan-ingatan tersebut. Tetapi aku selalu berusaha untuk memeluknya. Bukan melupakannya, tetapi mendekap kenangan menyakitkan itu seerat mungkin. Sehingga perasaan menyakitkan itu tak akan pernah kurasakan lagi. Menyatu dengan kebahagiaanku akan musim yang selalu membawa angin lembut ini.”
“Kau benar,” Sujiyama ikut menerawang.
“Seharusnya aku memeluk rasa sakit itu dari dulu. Seharusnya aku bisa menjadi seseorang yang tegar sepertimu, Nakagawa-san,”
Haruka tersenyum menimpali.
“Terima kasih, Nakagawa-san. Aku pergi dulu.”
“Secepat itu?” Haruka mengernyit heran.
Sujiyama tersenyum. Kepalanya menoleh ke arah perawat yang berjalan mendekat ke arah mereka. Waktu sudah berakhir.
Haruka tertawa akan kebodohannya. Percakapannya dengan lelaki itu berakhir tepat di penghujung senja.
“Baiklah,”
Kemudian lelaki itu berbalik, merapatkan syal biru langit yang selalu dikenakannya. Berlalu menuju koridor di sepanjang rumah sakit.
Lelaki itu. Kenapa berbicara dengannya terasa menyenangkan?
Sejak hari itu, berbicara dengan Tatsuya Sujiyama akan selalu terasa menyenangkan bagi Haruka Nakagawa. Semenyenangkan musim gugur.
*****
“Naomi-chan. Kau mengenal Sujiyama-san? Tatsuya Sujiyama,”
Hari ini lelaki itu tak menemani Haruka di penghujung senja. Juga beberapa hari yang lalu. Dia tak pernah mengenalinya. Tak ada nama itu di sekolahnya. Maka saat bersama Naomi seperti ini, mungkin lebih baik jika ia menanyakannya. Naomi memiliki banyak relasi. Siapa tahu.
“Siapa? Tatsuya Sujiyama? Tidak. Aku tidak pernah mengenalnya. Siapa dia?” Naomi heran. Sejak kapan sahabatnya itu mananyakan laki-laki? Apakah dia..?
“Oh, tak apa jika kau tidak tahu, Naomi-chan. Aku hanya penasaran saja.
“Siapa dia?”
“Hanya, hanya seseorang. Dia selalu menemaniku di taman rumah sakit semenjak kau pamit pulang,”
“Aku tak pernah mengenalnya, Haruka-chan. Tetapi kurasa aku pernah melihat nama itu.di suatu tempat. Entahlah. Ingatan itu seperti sesuatu yang buram.”
Haruka terdiam. Mungkin, lelaki itu memang kebetulan menunggui salah satu kerabat atau temannya. Dan mungkin kerabat atau temannya itu telah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Mungkin. Ia tak tahu pasti. Yang ia tahu hanya nama itu. Tatsuya Sujiyama. Tak kurang dan tak lebih.
“Akan kucoba untuk mencarikannya untukmu, Haruka-chan.” Naomi tersenyum, menenangkan sahabatnya yang terlihat gelisah. Ia harus mencari lelaki yang telah membuat sahabatnya gelisah. Harus.
*****
Haruka duduk sendirian. Ditempat yang sama. Dengan musim yang sama. Senja yang sama. Sudah seminggu lebih. Mungkin, lelaki itu tak akan pernah kembali. Buat apa? Kerabat atau temannya itu telah keluar dari rumah sakit. Ah, ia tak peduli. Ia sudah melupakan lelaki itu.
“Hai,” suara itu.
“Boleh aku duduk?”
Haruka menoleh cepat. Lelaki itu. Berdiri di hadapannya. Ia tak bermimpi, bukan?
“Maaf, aku tak memberitahumu. Seminggu terakhir ini ada kegiatan yang padat di sekolahku. Aku tak sempat mengunjungimu. Bahkan untuk berpamitan. Maaf. Sungguh maaf.” Lelaki itu duduk di sampingnya.
Haruka tersenyum. Ia senang. Sangat senang. Baginya, melihat lelaki itu kembali di sampingnya, menemaninya menikmati senja di musim gugur, sudah cukup. Lebih dari cukup.
“Omong-omong, bagaimana hkabar sekolahmu, Haruka-chan?” Entah sejak kapan, Sujiyama mulai memanggilnya dengan embel “chan”.
Kini, mereka tengah berjalan di jalan setapak yang memotong tengah taman rumah sakit yang luas itu. Musim gugur sempurna sudah. Yang tinggal hanyalah seluruh daun yang berserakan, meninggalkan pohon-pohon mereka yang kering kerontang. Tetapi tak apa. Haruka tetap menyukainya. Ia tetap menyukai angin yang masih berhembus lembut di antara sela-sela rambut coklatnya.
“Entahlah, Sujiyama-kun. Kurasa ayahku telah memutuskan untuk menyewa guru untuk home schooling-ku. Aku terlanjur tertinggal banyak pelajaran. Entahlah. Aku tak peduli. Buat apa? Umurku mungkin tak lagi,..”
“Kau tidak boleh berbicara sembarangan, Haruka-chan. Kau harus tetap kuat. Bukankah ada aku di sini?” Sujiyama menyengir lebar. Memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi.
Haruka tertawa. Menimpuk lengan Sujiyama sebagai balasannya. Lelaki itu bergaya mengaduh kesakitan. Sejak kapan mereka menjadi sedekat ini? Entah. Haruka tak peduli. Yang terpenting, lelaki itu telah memberinya banyak motivasi untuk terus bertahan atas penyakitnya.
“Haruka-chan, aku punya sesuatu untukmu.” Sujiyama mengerling jahil ke arah gadis itu. Mereka telah kembali duduk di bangku taman yang biasa mereka duduki. Kembali menatap senja di musim gugur.
“Apa?” Haruka bertanya singkat. Ia tak tertarik dengan kejutan.
“Kau harus menemuiku di rooftop rumah sakit malam ini. Pukul sebelas malam.”
“Kau tahu bahwa perawat tua itu tak pernah mengizinkanku keluar dari ruanganku kecuali waktu senja seperti ini. Barang sedetik pun.”
“Tidak. Kau bisa melakukannya untuk malam ini. Aku telah meminta izin pada perawatmu itu.”
“Benarkah?”
Sujiyama hanya tersenyum misterius. Dan senja hari itu pun berakhir indah. Sungguh indah, malah. Jika mampu, Sujiyama ingin menghentikan waktu. Ia ingin tetap melihat gadis di sampingya ini tersenyum bersamanya. Tertawa bersamanya. Bercengkerama bersamanya. Jika ia mampu, jika ia bisa… Ia tak ingin…
*****
“Haruka-chan!!”,
Haruka mengernyit kaget ketika seseorang berseru di hadapannya. Dekat sekali.
“Kau sudah sadar! Dokter! Dokter!” Gadis itu berseru sekali lagi,  lalu segera berlalu keluar. Entah kemana. Meniggalkannya sendirian.
‘Apa yang terjadi?’ Benaknya bertanya. Sedetik kemudian barulah ia sadar bahwa ia sedang berada di dalam ruangan yang sudah tak asing lagi baginya. Ruangan yang beberapa bulan terakhir ini kerap dikunjunginya.
‘Kenapa aku disini? Apa lagi yang terjadi?’ Benaknya mulai bertanya-tanya kembali. Sebelum otaknya sempat berpikir, seorang dokter laki-laki muda tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Serta seseorang yang membuntuti di belakangnya. Gadis itu.  Sato Naomi.
“Syukurlah kau sudah sadar. Jantungmu kembali melemah, Haruka-san. Kau tiba-tiba kejang tadi sore. Detak jantungmu tidak stabil.” Dokter itu berujar seraya memeriksa kondisi detak jantungnya sekali lagi.
Tunggu. Ia baru ingat bahwa ia memiliki janji dengan Sujiyama malam ini. Jam sebelas. Diluar hujan deras. Gelap.
“Jam berapa sekarang?”
“Kau baru saja sadar, Haruka-chan. Harusnya kau..”
“Katakan saja jam berapa sekarang!” Ia membentak. Suaranya serak.
“Pukul 2 malam, Haruka-san,” Dokter berusaha menengahi perdebatan yang mungkin akan terjadi.
Apa? Tidak! Tidak mungkin! Ia terlambat tiga jam. Tidak mungkin, kan? Jika lelaki itu masih menunggunya di cuaca sekejam ini? Tidak mungkin, kan?
Haruka merasa kacau. Ia tak bisa berpikir jernih. Ia berdiri sedapat ia bisa, lalu mencabut infus yang masih menancap di pergelangan tangannya dengan paksa. Ia harus pergi. Sujiyama menunngunya. Ia harus…
“Tunggu, Haruka!! Hal gila apalagi yang akan kau lakukan?” Naomi berteriak. Mencekal lengan Haruka.
“Tidak! Untuk kali ini saja. Biarkan aku keluar. Aku hanya memastikan sesuatu.” Gadis itu menarik kembali lengannya, sebelum kemudian berlari keluar ruangan.
Ia berlari tertatih. Menuju rooftop rumah sakit. Sayang, tak ada siapapun disana. Hanay hujan. Dan petir. Dimana dia?
Suara langkah kaki. Ia menoleh. Naomi ternyata. Gadis itu melangkah ke arahnya. Menuntunnya ke arah tampat yang teduh dari hujan. Mendudukkannya di salah satu bangku.
“Haruka-chan, akan kujelaskan sesuatu padamu.”
Haruka tetap bergeming. Mendengarkan. Ia sedang kalap oleh pikirannya sendiri. Dimana lelaki itu? Dimana ia?
“Aku pernah berjanji padamu untuk mencari tahu lelaki bernama Tatsuya Sujiyama, bukan? Akan aku ceritakan. Bukankah aku pernah berkata bahwa aku pernah melihat namanya? Ya. Aku pernah. Dan aku ingat sekarang.”
Haruka menoleh. Mulai menyimak percakapannya.
“Nama itu. Aku selalu melihatnya setiap hari. Setiap aku menjengukmu. Nama itu. Aku selalu melihatnya di sebuah pintu. Pintu pasien ruangan yang berada tepat disampingmu.
‘Apa maksud Naomi? Apa yang ingin dia bicarakan?’
“Ya, Haruka. Lelaki itu. Lelaki yang selalu menemanimu di setiap penghujung senja di musim gugur. Dia adalah salah satu pasien di rumah sakit ini. Ya. Ia adalah pasien, bukan seseorang yang mengunjungi kerabat atau teman seperti yang kau ceritakan. Dia adalah pasien. Pasien penderita leukimia.”
“Cukup. Cukup, Naomi. Aku tak ingin mendengar ceritamu,”
“Tidak. Aku harus menyampaikannya padamu, Haruka-chan.
“Lelaki itu, telah berada di rumah sakit sejak berumur lima belas tahun. Ya, tentu saja karena penyakit yang di deritanya. Setiap hari, yang ia lakukan hanyalah berbaring di ranjangnya, kemudian diizinkan sebentar untuk sekedar menengok taman rumah sakit. Sama sepertimu.
Ketika ia melihatmu, untuk pertama kalinya ia merasa memiliki semangat untuk hidup. Ia merasa ada seorang gadis yang memiliki hidup sepertinya, walaupun tidak separah dirinya. Ia memohon pada perawat yang mengurusmu agar tidak menjelaskan keterangan apapun tentangnya. Untuk sesaat saja, ia tak ingin mendengar motivasi untuk bersabar dari seseorang. Untuk sesaat saja, ia ingin mengubah dunia semunya dan mencoba untuk menghiburmu. Menyemangatimu agar kau rajin mengikuti pemeriksaan rutin dan minum obat.”
Haruka menangis hebat. Tangannya menutup mulutnya erat-erat. Menahan agar ia tidak berteriak. Tidak. Ini tidak mungkin. Naomi hanya menghiburnya, bukan? Naomi hanya bergurau seperti yang biasa dilakukannya, bukan? Tetapi cerita ini tidak lucu. Sama sekali.
“Tadi, tepat jam dua belas malam, ia ditemukan meninggal di atas atap gedung ini, Haruka. Tubuhnya basah kuyup..”
“Cukup!!! Hentikan, Naomi! Aku tak ingin mendengarnya lagi!!” Gadis itu menutup telinganya. Kali ini, ia telah menangis keras-keras. Tak peduli sunyinya malam yang semakin meranggas.
“Aku mendapatkan kotak ini dari petugas yang menemukannya. Ini untukmu, Haruka. Bukalah. Kau berhak menerimanya.”
Naomi menyerahkan sebuah kotak berpita biru pada Haruka. Dengan tangan bergetar, gadis itu menerimanya. Perlahan, ia membukanya. Tampak sebuah syal biru yang selalu dipakai lelaki itu. Juga sepucuk surat. Ia membuka amplop surat, membacanya perlahan. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Tidak mungkin. Ini semua adalah kesalahannya. Tidak mungkin…

 
Untuk Haruka Nakagawa,
Aku tahu, cepat ataupun lambat, kejadian ini pasti akan menimpaku. Dan sebelum aku menyadarinya, aku ingin bercerita sedikit untukmu.
Haruka-chan, kau mengingat syal ini, bukan? Syal ini. Syal yang selalu kupakai untuk menemuimu. Biarlah ia menjadi teman sunyi kita saat menikmati senja bersama. Biarlah ia menjadi saksi bisu saat kita menikmati musim gugur bersama.
Kau tahu, aku selalu membenci musim gugur. Tidak, aku membenci segala musim. Mengingatkan bahwa aku yang lemah berpenyakit ini berbeda dari manusia lainnya. Tetapi, aku mulai menyukai satu musim, karena aku bertemu dengan seorang gadis yang dengan senyum tulusnya selalu mengizinkanku untuk duduk di sampingnya. Menikmati musim itu bersamanya.
Maaf. Jika selama ini, aku tak pernah mengungkap identitasku yang sebenarnya. Maaf. Aku sungguh tidak bisa. Sungguh..
Haruka-chan. Aku selalu bersyukur untuk pernah mengenal gadis sepertimu. Sungguh. Kau yang membuatku tetap bertahan untuk hidup. Kau yang membuatku merasa bahwa dunia ini tak semenyakitkan yang kau bayangkan. Bahwa masih ada satu hal kecil yang bisa membuatmu merasa bahwa kau adalah orang paling beruntung di dunia ini.
Dan bagiku, hal kecil itu adalah karena aku mengenalmu. Aku mencintaimu, Haruka Nakagawa.
                                                                                                                                                   Tatsuya Sujiyama

 
I only want to look at you forever, giving you my heart and soul
Because you’re my everything in life, for life
Even if I’m born again I can’t be with anyone but you
A thousand words are not enough to express my mind, for life
This love, It will never end
EXO – For Life

Finished. The 19th of February, ’17. 21.15 WIB

 

*Nama aslinya Aula Khoirun Nisa’, dari firqah Al-Munawarah dan sebagai santri kelas 2 tingkat MDK Madin Al-Kamal serta  salah satu siswa di MAN Kunir. Karya yang telah  ditulis ini mendapat juara satu kategori Cerita Pendek (Cerpen) dalam rangka Pameran Karya Seni Santri Pon Pes Terpadu Al-Kamal.

Check Also

Cerpen: Byoh…Byoh-nya Emak

Oleh: Lucky Tjatra Brillian* Malam itu hujan deras mengguyur desa kecil Emak. Aku yang tergopoh-gopoh …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com