Home / Telaah Umum / Agama dan Kehidupan Manusia

Agama dan Kehidupan Manusia

Oleh: Kharis Mahmud, S.Ag*

Clifford Geertz merumuskan agama dalam sosiologi agama berbunyi “Agama ialah suatu system symbol yang berbuat untuk menciptakan suasana hati (mood) dan motivasi yang kuat, serba menyeluruh dan berlaku lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep yang bersifat umum tentang segala sesuatu (existence) dan dengan membalut konsepsi itu dengan suasana factual, sehingga suasana hati dan motivasi itu terasa sungguh-sungguh realistic”.

Nottingham berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering “terdapat dimana-mana” dan agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk menguku dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri, agama-pun melibatkatkan dirinya dalam masalah kehidupan sehari-hari di dunia.

Agama dalam kehidupan manusia sebagai individu berfungsi sebagai suatu system nilai yang memuat norma-norma tertentu. Dan norma tersebut menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Sebagai system nilai agama memiliki arti khusus dalam kehidupan individu serta dipertahankan sebagai bentuk ciri khas.

Agama, ritual dan kedamaian

Tujuan dari memeluk agama adalah untuk menciptakan kedamaian hidup, menjawab ketidakpastian dan agama adalah jalan utnuk manusia kembali ketika ia sudah tidak mampu lagi/mengalami keterbatasan kemampuan. Menurut Mc Guire, diri manusia memiliki bentuk system nilai tertentu. System nilai ini merupakan sesuatu yang dianggap bermakna bagi dirinya. System ini dipengaruhi oleh keluarga, teman, institusi melalui sosialisasi. Dan saat itu pula, perangkat nilai menbentuk identitas seseorang. Menurut Guire, dalam membentuk system nilai dalam diri individu adalah agama.

Ketika seorang bayi lahir ke dunia, maka ia tidak dapat memilih untuk beragama apa, dan orang-orang yang ada di sekitarnya (keluarga) akan menjadi subyek dominan dalam mempengaruhi pilihan agama individu. Ketika agama menjadi system nilai yang dianut oleh individu, maka pola tingkah laku individu akan sesuai dengan norma agama / menyesuaikan tingkah laku seperti yang ada dalam norma agama itu sendiri. Ketika didalam ajaran agama ada kewajiban untuk menjalankan sembahyang, maka hamba yang menjalankan sembahyang dengan ketulusan akan mendapatkan ketenagan hati. Dan berbeda dengan hamba yang melakukan sembahyang sebagai ritual, ia akan menjalani ritual sembahyang tanpa tahu esensi yang dilakukan dan tidak mencapai ketenangan hati.

Kapitalisme dan hedonisme mengkaburkan pemahaman agama

Kapitalisme yang syarat dengan rasionalisasi ekonomi dan persaingan menuju tujuan materi seakan mendorong manusia untuk mengejar hal keduniawian dan melupakan agama (Robert Bellah dan Yinger). Ketika persaingan menjadi focus, dan agama dilupakan, maka terjadilah sekularisasi agama dan kehidupan. Agama hanya menjadi tujuan akhir yang tidak begitu diperhatikan, jika ingin mengejar kepentingan dunia maka melupakan nilai-nilai moral kemanuasiaan dan akhirat. Seperti misalnya kalangan kapitalis yang mencari uang dengan cara membungakan uang pinjaman dengan bunga tinggi. Dengan melakukan hal seperti itu berarti bahwa manusia memang disibukkan dengan urusan material dunia dan melupakan nilai-nilai moral kemanusiaan (tolong-menolong). Dan memang benar adanya kaitan teori itu dengan kapitalis serta hedonisme, teori dari Karl Marx yang mengemukakan bahwa agama hanya untuk kaum tertindas. Ketika kaum penindas (kapitalis) menjarah segala kehidupan kaum proletar, kaum proletar ini akan lebih mendekatkan dirinya pada Tuhan dan agamanya. Konsep Marx tentang ‘agama sebagai candu’ dapat diartikan bahwa candu / obat bius akan menawarkan rasa sakit, dan rasa sakit dan kecewa terhadap hidup akan terobati dengan mendekatkan diri pada tuhan. Sedangkan orang yang selalu mengejar kesenangan (hedonis) akan lupa pada Tuhannya karena hampir tidak perna merasa tertindas dan sakit serta kecewa terhadap hidupnya.

Jilbab dan mode

Jilbab merupakan symbol dari pakaian yang digunakan oleh perempuan pemeluk agama Islam. Ketika kita melihat perempuan memakai jilbab, yang ada dipikiran kita pasti dia seorang muslimah. Adab berpakaian jilbab dalam islam adalah untuk menutup aurat, ketika memakai jilbab, pakaian yang dikenakan tidak boleh ketat / pas dengan tubuh, transparan sehingga terlihat kulit tubuh dari pemakainya. Mungkin itu sedikit gambaran mengenai adab yang baik ketika memakai jilbab. Dan dalam konteks kekinian, memakai jilbab ini seakan menjadi budaya pop dan tren baru di bidang fashion.

Budaya pop merupakan budaya yang mencari kepraktisan dari sesuatu. Misalnya gaya berpakaian, ketika trend busana berjilbab sedang marak dengan model-model yang baguz, maka akan banyak yang tertarik memakai jilbab. Atau memakai jilbab hanya sekedar mengikuti gaya teman. Berjilbab yang hanya mengikuti mode, berbeda sekali dengan pemakai jilbab seperti yang disyariatkan agama (sebagai penutup aurat). Jadi tidaklah mengherankan jika ada beberapa orang yang memakai jilbab namun tidak bisa menjaga tingkah laku atau-pun cara berpakaian. Ketika orang berjilbab dengan kesungguhan hati dan demi agamanya, maka ia akan dapat menjaga tingkah lakunya sebagai penganut agama, nilai dan norma agama akan terinternalisasi dalam diri.

Dari contoh tersebut dapat kita konklusikan bahwa agama memang berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Ketika jilbab -simbol- yang dimaknai dengan ajaran-ajaran agama yang disyariatkan tentunya akan membawa pemakainya pada makna mendalam mengenai keberadaan dirinya sebagai hamba Tuhan. Ketika hanya dimaknai dengan mode, maka hanya akan bertahan periode tertentu saja tanpa ada makna mendalam mengenai dirinya sebagai hamba Tuhan.

Di zaman modern pengaruh agama terhadap tata hidup masyarakat sangat menurun bahkan kecil sekali. Pemerintahan dewasa ini, sekularis dan dengan demikian keterlibatan agama juga sangat kecil dalam proses pembangunan bangsa dan masyarakat. Banyak pemeluk agama lebih cenderung mengikuti hal-hal ritual dan sangat kurang dalam penghayatan iman. Mereka jatuh ke dalam Atheisme praktis yakni mengakui adanya Tuhan dengan bibir, tetapi dalam hidup sehari-hari tidak memperdulikan Tuhan dan munafik. Dari sini muncul krisis iman yang antara lain mengakibatkan krisis panggilan menjadi Suster, Bruder, Frater, dan Imam, serta rasul-rasul awam di Paroki-paroki. Kehidupan menggereja merosot. Salah satu konsekuensi lain dari krisis iman ialah muculnya Infantilisme yakni orang beriman seperti kanak-kanak. Hal semacam ini menjalar di seluruh dunia dan juga di negara kita. Akhirnya masing-masing orang mempunyai pengetahuan yang kabur tentang agamanya. Wa Allahu A’lamu Bi Ash-Showab.

 

*Mahasantri Ma’had Aly Ashabul Ma’arif Al-Kamal

Check Also

Filsafat Dalam Analisis Wacana

Oleh : Afrizal Nur Ali Syah Putra* Tujuan bisa sama, tetapi cara untuk mencapai tujuan …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com