Home / Jourtea: Catatan Santri / Adzan Pagiku, Penunjukku
Pict Source Google Picture

Adzan Pagiku, Penunjukku

Oleh: Siti Fatikha Imroatul Lathifa (3 Ula)

Setiap pagi hari Alicia selalu bangun dikarenakan adzan Subuh berkumandang dan hatinya terasa trenyuh saat mendengarnya. Namun ia tidak segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat karena ia bukan orang Islam melainkan beragama Khatolik. Ia tinggal bersama ayahnya karena orangtuanya cerai saat ia kelas VI SD karena hidayah dari ibunya yang diberikan Allah pada ibunya untuk menjadi muallaf. Meskipun mereka bercerai tetapi hubungan mereka tetap rukun seperti sebelumnya.

Alicia adalah siswi SMA Taruna Jawa Bandung yang duduk di kelas XII Bahasa 2. Ia sangat dikenal anak yang disiplin, pintar, dan juga memiliki banyak teman. Salah satu temannya bernama Arsyad. Meskipun berbeda agama, tapi mereka saling toleransi. Arsyad adalah anak yang sangat rajin dan ia pintar berdakwah, tak pernah satu kalipun ia meninggalkan sholatnya dan ia juga hafidz Al-Qur’an.

“Arsyad!” panggil Alicia, seraya mendekati Arsyad yang tengah duduk di depan mushola.

“Eh, Alicia, ada apa?” tanyanya seraya memandang wajah Alicia.

“Nggak Syad, boleh duduk nggak?”

“Iya silahkan!”

“Gini Syad, aku mau cerita setiap aku mendengar adzan Shubuh bekumandang, kenapa akhir-akhir ini aku selalu bangun dan hatiku trenyuh saat mendengarnya. Kamu tahu apa alasannya?”

“Eemm… aku nggak tau Cia nanti aku tanyakan pada ibu ya”

Keesokan harinya…….

Allahu Akbar, Allahu Akbar…… suara adzan Subuh kini membangunkan Alicia kembali hati Alicia semakin trenyuh mendengarnya. Namun hari ini ia segera bangun dikarenakan hari Minggu. Ia harus pergi ke gereja untuk sembahyang. Namun anehnya kali ini ia tidak semangat seperti biasanya ketika hendak pergi ke gereja seperti Minggu yang lalu. Alicia semakin hari semakin merasakan keganjalan ketika azan Subuh berkumandang. Kemudian ia meminta izin kepada ayahnya untuk menemui ibunya untuk menceritakan kejadian yang di alaminya itu. Dan ibunya menyaranka Alicia untuk muallaf tetapi Alicia belum siap.

“Alic ya udah kalau kamu belum siap untuk muallaf. Ibu minta tolong mintalah bantuan kepada Arsyad untuk menuntunmu kejalan yang benar. Agar hatimu ikhlas untuk menjadi muallaf supaya tidak  merasakan kejanggalan saat mendengar adzan Subuh berkumandang .’’Nasehat ibunya dengan pasrah.

###

Seminggu kemudian…..

Setelah mendengar penjelasan dari Alicia, Arsyad setiap hari membinbing Alicia agar hatinya ikhlas untuk menjadi muallaf. Tetapi, Alicia merasa tidak tega dengan ayahnya jikalau ia akan menjadi muallaf. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menjadi muallaf sertelah ia membicarakannya dengan ayahnya tentang keganjalan yang ia alami setiap adzan Subuh berkumandang. Dan sekarang ia sudah mantap untuk menjadi muallaf. ‘’Ayah’’panggil Alicia. Seraya mendekati ayahnya yang sedang duduk di shofa samba membaca Koran.’’Iya, ada apa alic ?’’ jawab ayahnya , seraya memandang Alicia. Kemudian Alicia menceritakan kepada ayahnya tentang apa yang terjadi padanya akhir akhir ini dan mengutarakan apa yang ia utarakan yaitu keinginan untuk menjadi muallaf. Alicia sangat gelisah untuk menunggu jawaban dari ayahnya. Dan ternyata, ayah tidak  merasa kebaratan sedikitpun tentang keputusan Alicia untuk menjadi muallaf, malah ia senang walaupun ia belum mendapatkan hidayah.

Akhirnya, Alicia benar-benar ikhlas dan siap untuk menjadi muallaf setelah mendengar jawaban dari ayahnya. Ia meminta bimbingan Arsyad untuk mengucapkan kalimah syahadat dan ia juga untuk menutup auratnya agar menjadi wanita yang lebih baik dan tentunya sholehah.

Check Also

Makna Detik-Detik Wida’

Oleh: Rizky Rahayu N. S. (tim jourtea) Bicara tentang wida’ yang biasa diselenggarakan di pondok-pondok pesantren, …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com