Home / Liputan Pesantren / Repost: KH Thohir Wijaya, Sang Diplomat Bersarung (Kisah dari KH. Maimun Zubair)

Repost: KH Thohir Wijaya, Sang Diplomat Bersarung (Kisah dari KH. Maimun Zubair)

Ulama’ yang ma’rifat billah satu ini sangat nyentrik dan diplomatis, suatu ketika saat pengajian, beliau bercerita bahwa “hampir tiap malam aku jagongan karo gusti Allah”

Alkisah, suatu kali KH. Maimoen Zubair atau lebih sering disapa dengan Mbah Moen, pernah bercerita,”Guru pertamaku neng Lirboyo iku Kang Thohir Wijaya…”. Siapa sebenarnya KH. Thohir Wijaya? Mungkin nama besarnya bukanlah isyarat dari kejelian kita dalam menebak siapa sebenarnya beliau. Beliau dilahirkan di Blitar pada 5 Shofar 1342 H, atau sekitar tahun 1921 M, putra ketiga dari Kyai Sarkun, seorang ahli tirakat dari kampung Bakung, di ujung barat Blitar, atau persisnya berada hampir di perbatasan antara Blitar dan Kediri, yang masuk wilayah teritorial Kecamatan Udanawu.

Singkat cerita, beliau termasuk santri generasi pertama di Pondok Pesantren Lirboyo, di bawah bimbingan langsung Mbah Manab (KH. Abdul Karim, Muassis PP. Lirboyo). Masa nyantrinya di Lirboyo merupakan awal dedikasinya dalam berjuang menegakkan Agama Allah di muka bumi.

Sebuah cerita dari KH. Maimoen Zubair, Sarang Rembang, yang juga merupakan murid sekaligus teman beliau, Kyai Thohir merupakan santri paling menonjol kala itu di Lirboyo. Bagaimana tidak, disaat hampir semua daerah di Nusantara ini takluk pada penjajah Jepang dan mengalami krisis pangan, Lirboyo-lah salah satu daerah yang terbebas dari paceklik itu. Ini semua tak lain dan tak bukan karena Lirboyo sangat diperhitungkan Jepang kala itu, sebagai bagian dari pusat gerakan pribumi. Simpati Jepang pada Lirboyo ini tak lepas dari diplomasi seorang santrinya, yang memang ditugaskan khusus oleh Mbah Manab untuk mewakili beliau setiap ada urusan dalam berbagai hal dengan Jepang.

Dialah Kyai Thohir muda, yang kala itu oleh pihak Jepang dikenal sebagai Pengasuh Pondok Lirboyo. Kyai Thohir muda merupakan pria tampan, cekatan, ‘alim, dan menguasai berbagai bahasa.
Konon saat itu di Lirboyo, ada sebuah intruksi khusus dari Mbah Manab, agar semua santri Lirboyo memanggil Thohir dengan sebutan Kyai, dan beliaulah yang pada akhirnya menambahkan nama Wijaya di belakang nama Thohir, agar tambah gagah, imbuh KH. Maimoen Zubair. Jadilah Thohir muda menjadi “Kyai” ke-dua di Lirboyo, atas intruksi Mbah Manab. Ini bukan tanpa alasan, karena Lirboyo waktu itu perlu membangun image di hadapan Jepang sebagai institusi yang memang patut diperhitungkan, tak kurang dari segi diplomasinya.

Waktu bergulir di penghujung tahun 70-an, beliau adalah termasuk Kyai NU yang waktu itu bergabung dengan Golkar, sebagai partai pemerintah. Di jajaran Kyai NU seangkatan beliau di Golkar seperti KH. Must’ain Romli dan KH. As’ad Umar, beliau berdua dari PP. Darul Ulum Rejoso Jombang. Tak kurang antipati masyarakat terhadap pilihan “ekstrim” beliau bergabung dengan Golkar kala itu. Namun beliau tetap pada pendiriannya,”siapa lagi yang bisa menasehati Soeharto selain temannya?”. Jadilah beliau Kyai nomor wahid di Golkar. Tidak hanya sebagai orang biasa di Golkar, beliau masuk di jajaran penasehat kepresidenan, Presiden Soeharto. Selain itu, beliau menjabat juga sebagai Ketua Umum Majelis Da’wah Islam (MDI), organisasi otonom Golkar.

Beliau wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 1419 Hijriyah, atau sekitar tahun 1998 di usia 77 tahun, meninggalkan ribuan santri Pondok Pesantren Al Kamal Jakarta dan Blitar.

Robbi fanfa’na bibarkatihim… Amiin…

 

Sumber: https://m.facebook.com/PustakaM2HM/posts/1598161523822012

Check Also

Kunjungan Dan Silaturahmi Ma’had Darul Lughoh Wa Da’wah

Senja di bumi Al-Kamal selalu istimewa. Seperti pada Ahad, 2 Desember 2018 ketika santri berbondong-bondong …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com