Home / Kajian Ilmiah Keislaman / Al-Qur’an: I’tibar Penyelesaikan Konflik (Tafsir al-Zumar 32-35)*

Al-Qur’an: I’tibar Penyelesaikan Konflik (Tafsir al-Zumar 32-35)*

Ditulis oleh: Dr. Asmawi Mahfudz, M.Ag.

Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar dan menjadi salah satu pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung.

Ilustrasi

Malam sabtu kemarin tanggal 21 september 2012, penulis menyampaikan sebuah pengajian tafsir, yang kebetulan materi kajiannya dirasa cocok dengan kondisi bangsaIndonesiayang selalu diberi cobaan dengan selalu terulangnya konflik antar elemen masyarakatnya. Baik konflik antar umat beragama berbeda keyakinan atau dengan keyaklinan yang sama, antar kelompok masyarakat, etnis, suku, ras dan lain-lain. Maka pelajaran dari al-Qur’an dirasa penting untuk disampaikan dalam rangka mencari solusi bersama untuk menyelesaikan konflik. Di dalam al-Qur’an surat al-Zumar ayat 32-35 dijelaskan:

“Maka tidak ada seorangpun yang lebih aniaya (dzalim) dibanding dengan orang yang mendustakan Allah dan mendustakan kebenaran al-Qur’an ( tatkala al-Qur’an itu datang kepadanya), bukankah neraka jahanam tempat menetap bagi orang-orang kafir (32).

Dan orang–orang yang datang dengan membawa kebenaran  dan membenarkan al-Qur’an, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (33).

Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di sisi Allah, demikian itu balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (34).

Supaya Allah menghapus dari mereka keburukan yang telah mereka perbuat dan membalas dengan memberi pahala terhadap kebaikan yang mereka perbuat (35)”.

Ayat sebelumnya (al-Zumar:31) menjelaskan bahwa nanti di hari kiamat umat manusia bertengkar atau berselisih (yakhtashimun) dihadapan Allah Swt. Pertengkaran itu disebabkan karena sebagian yang satu dengan sebagian yang lain menuntut terhadap kezhaliman-kedhaliman yang telah dilakukan terhadap yang lain. Orang yang belum membayar hutang akan ditagih hutangnya, orang yang menyakiti orang lain akan dituntut terhadap kedzalimannya, semua saling menuntut terhadap kedzaliman dan itu harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah terhadap aniaya yang telah mereka lakukan terhadap yang lain. Sampai akhirnya disebutkan dalam sebuah Hadits Rasulullah seandainya pahala kebaikan seseorang tidak mencukupi terhadap dosa-dosa kepada yang lain, maka akan di bebani dosa-dosa si madzlum (orang yang teraniaya).

Relevansi (Munasabah) ayat ini mengisyaratkan bahwa kedzaliman yang telah kita lakukan kepada semua manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir amat berat pertanggung jawabannya di hadapan Allah. Dan di dalam surat al-Zumar ayat 32 di jelaskan, terdapat kedzaliman yang lebih besar lagi ( orang yang paling dzalim) adalah orang yang berbuat dusta terhadap Allah dan mendustakan kepada kebenaran. Di dalam tafsir Jalalayn, dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan berbuat dusta kepada Allah adalah menyekutukannya (Syirik) dengan sesuatu selain Allah dan menyebutnya sebagai Tuhan yang mempunyai anak. Sedangkan maksud dari mendustakan kebenaran adalah mendustakan kebenaran yang kitab suci al-Qur’an.

Kemusyrikan yang diindikasikan oleh Al-Qur’an sebagai kedzaliman paling besar bisa saja berwujud kemusyrikan aqidah, dengan meyakini adanya Tuhan selain Allah atau Allah mempunyai anak atau diperanakkan. Tetapi juga bisa saja berupa syirik amaliyah dengan melakukan sesuatu bukan karena Allah. Syirik amaliyah ini biasanya terjadi dikarenakan kurang mantapnya aqidah seseorang, sehingga dalam realisasinya sehari-hari berwujud perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan aqidahnya sendiri.

Pada ayat selanjutnya al-Zumar: 33-34 dijelaskan bahwa orang  benar adalah orang-orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya.  Dalam kitab tafsir al-Shawi al-Maliki dijelaskan bahwa orang-orang yang membawa kebenaran adalah Nabi Saw dan orang–orang beriman(para pengikut Rasulullah) yang menjauhi  kemusyrikan. Sedangkan kebenaran yang dibawa adalah al-Qur’an. Sehingga dalam ayat: 34, orang yang membawa kebenaran (al-Qur’an) dan membenarkan apa yang mereka terima, di sisi  Allah akan mendapatkan sesuatu yang mereka senangi (kullu ma yasytahun). Syaikh al-Shawi al-Maliki menerangkan tentang perkara yang disenangi adalah semua kesenangan (kenikmatan) yang akan didapatkan mulai dengan kehadiran kematiannya nikmat, dilanjutkan dengan ketika berada di kuburan juga mendapatkan kenikmatan, kemudahan dalam hari kebangkitan, kenikmatan pada waktu penghitungan amal (hisab). Terpenuhinya kesenangan-kesenangan itu merupakan balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin).

Dijelaskan pula, kebaikan yang telah mereka berbuat sebenarnya manfaatnya kembali untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan “barang siapa yang memulyakan dirinya maka Allah akan memulyakan dia. Artinya semua amal faedahnya akan kembali kepada dirinya sendiri”. Dalam ayat ke 35 dijelaskan bahwa Allah akan mengampuni kejelekan-kejelekan yang  telah mereka lakukan, juga sebaliknya Allah akan membalas semua kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan.

Maka dari paparan di atas, dapat diambil pemahaman bahwa orang yang paling dzalim adalah perilaku pholitesme (musyrik), dan mendustakan al-Qur’an. Sedangkan orang yang membawa kebenaran al-Qur’an dan membenarkan kebenaran disebut sebagai kelompok-kelompok yang paling benar. Tatkala terjadi perselisihan dalam mempertahankan prinsipnya masing-masing. Walaupun ayat-ayat di atas perselisihan terjadi di akhirat, bisa jadi diambil sebuah pelajaran (I’tibar) untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini. Agar setiap manusia selalu memegang prinsip-prinsip kebenaran yaitu ajaran tauhid dan tuntunan kitab suci al-Qur’an. Sehingga manusia tidak terjerumus dalam kedzaliman yang paling besar yaitu kemusyrikan, baik berupa aqidah (keyakinan) maupun amaliyah (perbuatan).

Dalam konteks ke-Indonesiaan, standar kebenaran dalam menyelesaikan al-Qur’an merupakan sebuah keniscayaan. Mengingat warga masyarakatnya heterogen (beragam), multicultural, multi etnis, multi agama dan keyakinan, yang tentunya dengan kondisi semacam itu berimplikasi seringnya muncul konflik antar kelompok atau antar agama, bahkan antar pengikut agama. Maka dengan belajar dari substansi ajaran surat al-Zumar ayat 32-35 tersebut dapat menyelesaikan frekwensi konflik yang terjadi di Indonesia ini. Akhirnya manusia khususnya masyarakat Indonesia dapat hidup harmonis dalam membangun hubungan dengan Tuhannya (Habl min Allah) maupun hubungan dengan sesama manusia (Habl min al-Nas). Pada akhirnya dapat terwujud cita bersama yaitu sebuah Negara bangsa yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kertoraharjo, dalam naungan ridla Allah Swt. Wa Allahu A’lam bi al-Shawab!

*Disampaikan dalam Majlis Ta’lim rutinan Tafsir Jalalayn dan kitab Minhaj al-Abidin Di PP al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar, pada hari Jumat Malam Sabtu tanggal 21 september 2012, jam 19.30-21.30

Check Also

Kewajiban Menyembah Allah Tanpa Kemusyrikan: Tafsir Surat Ghafir (al-Mukmin: 40, 13-15)

Penulis: Ust. Dr. K. Asmawi Mahfudz, M.Ag, Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com