Home / Kajian Ilmiah Keislaman / Inkonsistensi Watak Kebanyakan Manusia (Tafsir Surat al-Zumar Ayat 49-52)*

Inkonsistensi Watak Kebanyakan Manusia (Tafsir Surat al-Zumar Ayat 49-52)*

Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru kami, kemudian apabila kami berikan nikmat kepadanya. Ia berkata: sesungguhnya aku diberi nikmat hanyalah karena kepintaranku. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui (49). Sungguh orang-orang sebelum mereka telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka, apa yang dahulu mereka usahakan (50). Maka mereka ditimpa akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang dzalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak akan dapat melepaskan diri (51). Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki dan menyempitkanya bagi siapa yang dikehendakinya? Sesungguhnya dari apa yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman (52). (Khadim al-Haramayn, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 1971)

Ayat di atas merupakan kelanjutan kajian dari  keterangan sebelumnya, bahwa manusia yang ingkar kepada Allah apabila disebut Nama Allah, kebenaran ajaran-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya, mereka berpaling dari kebenaran itu. Tetapi tatkala kesulitan atau mara bahaya (kesulitan) menimpa mereka, seakan mereka berdo’a kepada Allah. Kemudian apabila Allah telah memberikan nikmat dan anugerah-Nya, mereka mengatakan bahwa: nikmat ini disebabkan karena kemampuan dan ilmuku. Memang sudah sepantasnya saya memperoleh atau berhak terhadap nikmat itu.(Husen al-Hamshi, Al-Quran al-Karim, Tafsir wa al-Bayan, Beirut). Padahal di ayat sebelumnya mereka mengingkari kebenaran Allah dan Rasulullah Muhammad Saw (al-Syaerazy al-Baidhawi:Berut, 2006). Dalam Tafsir Shawi dijelaskan bahwa pemberian nikmat dari Allah merupakan anugerah dan ketentuan Allah, bukan karena usaha atau kepintaran yang dimiliki oleh manusia. (al-Shawi:2002).

Itulah Watak kebanyakan manusia yang mempunyai sikap tidak konsisten yang melekat pada diri manusia. Ini terbukti ketika mereka terdesak atau dalam ditimpa kesulitan, mereka mengadu kepada Allah, tetapi apabila nikmat telah diperolehnya, mereka seakan lupa dari yang memberi nikmat, dzat yang maha kuasa atas pengaturan segala sesuatu. Watak-watak semacam ini adalah karakter umat-umat terdahulu, yang tidak mempercayai kemaha esaan dan kekuasaan Allah.

Dari sikap berubah-ubah (inkonsistensi) manusia juga tergambar adanya penyandaran atau penisbatan keburukan kepada Allah, sementara seandainya terdapat kebaikan berasal dari kemampuan mereka sendiri. Apa yang mereka sangkakan itu merupakan kesalahan yang nyata. Karena kalau memang mereka mau konsisten, tentunya mereka tidak menyandarkan keburukan kepada Allah dan mengaku kebaikan sebagai usaha mereka sendiri. Melainkan kebaikan dari Allah dan keburukan juga dari Allah. Atau kebaikan dan keburukan sama-sama dari Allah Swt, juga bisa dikatakan kebaikan dan keburukan adalah usaha mereka sendiri. Implikasi dari sikap mereka yang tidak konsisten itu, balasannya akan kembali kepada diri mereka sendiri dan mereka tidak akan dapat menghindarinya. Baik balasan dari sikapnya itu akan turun di dunia maupun di akhirat kelak.

Bukti kesalahan dari sikap manusia yang tidak konsisten itu dapat direkam dari watak orang-orang yang beriman kepada Allah, yang meyakini bahwa kelapangan dan kesempitan  rizki berasal dari Allah semata. Manusia tidak dapat mengatur dan menentukan kapasitas rizki yang akan mereka dapatkan, baik manusianya termasuk orang yang taat atau orang-orang yang selalu maksiat, tidak ada pengaruhnya terhadap kekuasaan Allah untuk menentukan kadar rizki masing-masing manusia. Allah maha kuasa untuk melapangkan rizki orang-orang yang tidak berusaha atau tidak mempunyai kemampuan sekalipun untuk mencari rizki. Demikian juga Allah mempunyai otoritas mutlak untuk melapangkan rizki orang-orang yang maksiat kepadanya. Maka dari itu Syaikh Shawi al-Maliki berpendapat, “tidak ada hubungannya antara memberikan kelapangan rizki duniawi atau mencabutnya dengan kecintaan kepada Allah. Tetapi rizki memang benar-benar pure (murni) kebijaksaan Allah Swt kepada hamba-hambanya. (al-Shawi al-Maliki:Beirut, 2002). (al-Suyuthi dan al-Mahali, Tafsir Jalalain, Beirut: Dar al-Fikr)

Dan bukti tanda-tanda kebesaran Allah ini seharusnya dapat menjadi patokan bagi manusia yang beriman dalam bersikap dan berperilaku secara konsisten antara hati dan perbuatan, atau antara aqidah dan relitas pengamalannya. Sikap semacam ini penting ditekankan dalam kehidupan dunia modern yang multi cobaan hidup. Baik cobaan dari sisi sosial ekonomi, sosial  politik, maupun sosial  keberagamaan di sekitar kita. Dengan adanya keistiqomahan (konsisten) dalam setiap perbuatan manusia, akan diperoleh kualitas penghambahan kepada Allah. Sehingga memunculkan sikap keberagamaan (religiuosity) yang bermutu juga dalam diri setiap umat yang beragama.

Kualitas keberagamaan akhirnya dapat meminimalisir adanya ketimpangan-ketimpangan yang selalu menjadi pemandangan harian di masyarakat kita, akibat inkonsistensi sebagian manusia, ketika bergaul dengan manusia yang lain. Ketimpangan ini dapat berwujud problem masalah zakat yang tidak pernah selesai dalam hal reformulasi distribusi atau penarikannya, problem sholat yang tidak relevan dengan perilaku para musholli (orang yang mengerjakan sholat), jihad dimaknai dengan kekerasan antar sesama, haji sebagai sarana pemuas hedonisme. Akhirnya ajaran agama dalam praktek kehidupan nyata seolah berlawanan secara diametral dengan tujuan diterapkanya ajaran tersebut, yang pada akhirnya keberlanjutan perilaku inkonsistensi  berakibat hilangnya elan vital ajaran agama dari diri manusia.

Juga dapat dikatakan, ketimpangan penampilan ajaran agama berkibat kepada kesenjangan kemampuan ekonomi antar anggota masyarakat. Sehingga problem-problem sosial selalu bermunculan seolah menjadi patologi social. Untuk itu konsistensi antara akidah (keyakinan) syari’ah (pelaksanaan rukun Islam) dan akhlaq (etika) dapat dijadikan solusi untuk memperbaiki nasib dan kondisi warga masyarakat menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Wa Allahu A’lamu bi al-Shawab!

*Disampaikan dalam pengajian rutin Tafsir Jalalayn dan Minhajul ‘Abidin di Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal Blitar, Malam Sabtu 19 Oktober 2012

Ditulis oleh: Dr. Asmawi Mahfudz, M.Ag. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar dan menjadi salah satu pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung.

 

Check Also

Kewajiban Menyembah Allah Tanpa Kemusyrikan: Tafsir Surat Ghafir (al-Mukmin: 40, 13-15)

Penulis: Ust. Dr. K. Asmawi Mahfudz, M.Ag, Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan …

Leave a Reply

×
%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com