Home / Goresan Santri / Masa Lalu Salsa
Gambar: Google

Masa Lalu Salsa

Oleh: Qurrotul Hasanah (3 Wustho MDK)

Suatu minggu di pagi yang cerah. Seorang gadis bersama ibunya sedang berjalan menyusuri lorong-lorong pasar kota. Gadis itu bernama Salsa. Ketika itu tak jauh dari tempat keduanya berada, berdiri seorang gadis seusia Salsa sedang memandang ke arahnya.

“Hai…kamu Salsa kan? Apa kabar? Lama kita tak jumpa…” sapa gadis tersebut

“Hai juga. Ya aku Salsa.kamu???” Salsa mengernyitkan dahi. “emm…ini Maudy kan? Ya Tuhan….maaf tadi aku pangkling sama kamu, habis lama tak jumpa.Oh ya, aku baik. Kamu?”

“Alhamdulillah baik juga. Sa, aku kangeeeen banget sama kamu.”

“Aku juga Maudy.emm…sejak kapan pulang?” Tanya Salsa.

“Aku sudah sebulan di rumah. Alhamdulillah kedua orangtuaku udah baikan lagi. Dan  mulai sekarang aku kembali ke kota ini untuk hidup bersama-sama keduanya kembali.”

“Oh ya??? Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya kawan. Jadi sekarang kita bisa bersama lagi seperti dulu??” Tanya Salsa.

“Sa, ayo kita pulang. Ibu sudah selesai belanjanya.” Kata seorang ibu pada Salsa.

“Iya Bu, mari…”

“Maudy, maaf ya, aku harus ngantar ibu dulu. Nanti aku tunggu kamu di taman kota, pastinya banyak cerita selama kita berpisah. Aku ingin denger cerita-ceritamu.”

“Oke! Tidak apa-apa. Aku tunggu kamu di taman.”

Maudy pun melihat teman masa kecilnya berjalan semakin jauh. “Ibu? tapi kok….” Gumam Maudy bingung.

**********

Taman kota yang sejuk. Duduk dua gadis remaja di bawah sebuah pohon akasia yang rindang. Jilbabnya berkelok-kelok tertiup angin, membuat keduanya semakin berseri-seri.

“hampir 14 tahun kita berpisah. Dan selama itu semuanya telah berubah. Aku pikir aku akan kehilangan semuanya, tapi ternyata tidak. Aku menemukan teman masa kecilku kembali.” gumam Salsa.

“Iya, aku juga gak nyangka selama itu kita berpisah. Andai saja waktu itu orangtuaku tidak bercerai, aku pasti selalu bersamamu.”Kata Maudy.

“Sudah lah, yang penting sekarang keluargamu sudah rukun kembali dan kita juga bisa bersama-sama lagi.” Ucap Salsa.

“Emm…Sa, maaf aku mau Tanya.yang tadi itu Ibu kamu? Ibu Indayah? Tapi sepertinya aku belum pernah melihat wajahnya. Apa akunya yang lupa ya…??” Tanya Maudy.

“Hmm…iya, itu Ibuku. Tapi bukan Ibu Indayah. Namanya Ibu Sa’diyah.” Kata Salsa sambil tersenyum.

“Bukan Ibu Indayah? Maksudnya?… maaf, apaaa orangtuamu berpisah?” Tanya Maudy.

“Emm…apa ya namanya? Maudy, Ibu Indayah yang kamu kenal kini sudah tenang, sudah hampir 13 tahun aku tidak hidup bersama-sama dengannya lagi.”

“Maksud kamu Sa?”

“Maudy, Ibu Indayah adalah bundaku, guru ngaji kita. Beliau udah lama pergi dari dunia ini, kurang lebih dua bulan setelah perceraian orangtuamu dan kepindahanmu ke kota ayahmu.”

“Innalillahi wa innailaihi roojiuun, benarkah Sa? Tapi karena apa? Sakitkah? Rasanya dulu itu Ibu Indayah sehat-sehat aja.”

“Yach, ceritanya panjang Maudy. Apa aku boleh bercerita?”

“Ceritalah Sa, aku sahabatmu. Aku pasti dengarkan, maaf waktu itu aku tidak bisa disampingmu, menemanimu menangis.”

“Bunda memang terlihat sehat. Tapi sejatinya ia rapuh karena Bunda mempunyai penyakit komplikasi liver dan batu ginjal.makin hari penyakit itu bertambah parah, maka Bunda jadi sering keluar masuk RS.tak sedikit biaya yang dihabiskan Ayah untuk kesembuhan Bunda. Tapi apa boleh buat, kuasa Allah lebih agung. Waktu itu, Bunda baru saja beberapa hari pulang opname. Tapi tiba-tiba kakekku masuk RS karena ada virus titanus dalam tubuhnya. Seingat aku kakek hanya tiga hari dirawat di RS.dan cerita nenek, semalam sebelum kakek meninggal, Bunda berkata pada nenek. Kata Bunda “Buk, aku ingin ikut bapak. Bapak itu sudah mati. Boleh ya?.” Semua orang terbengong mendengar kata-kata Bunda. Apalagi nenek, ia sebagai seorang ibu punya firasat buruk tentang hari esok. Dan ternyata benar. Hari itu 09-09-99 jam 03.00 dini hari kakek meninggal di RS. Setelah jenazah dibawa pulang dan disemayamkan suasana duka masih terlihat pada wajah-wajah keluargaku.ya… tapi karena waktu itu aku masih kecil, masih umur 5 tahun. Aku tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku malah ngrasa suka karena aku bisa bermain-main dengan sepupu-sepupuku. Tapi ternyata aku salah. Itu bukanlah hari yang menyenangkan, tetapi itu justru hari paling buruk dalam sejarah hidupku. Kenapa?? Bayangkan saja, dalam hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama aku dan keluargaku kehilangan dua orang yang kami sayang, yang aku cinta. Kakek dan Bundaku Maudy. Ternyata Bunda benar-benar ikut kakek. Bunda meninggal sore harinya. Ia meninggalkan aku, anak satu-satunya. Aku sangat menyesal Maudy, karena beberapa menit sebelum Bunda meninggal, ia memintaku memeluk dan menciumnya, lalu ia  ingin memeluk dan menciumku. Tapi karena aku terlalu asyik bermain, aku hanya membalas pelukan dan ciumannya hanya sekedar pelukan biasa. Padahal ia memelukku eraaat sekali, seolah-olah tak ingin melepasnya. Aku tak tau kalau itu adalah pelukan dan ciuman terakhir dari Bunda. Aku gak tau, aku bodoh, aku jahat Maudy.andai saja waktu dapat diputar kembali, aku ingin tak ada penyakit dalam tubuh Bunda…… aku, aku,….” Salsa tak dapat lagi membendung air matanya, ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Maudy pun memeluknya.

“Sa, sudahlah. Maafkan aku, aku tak bermaksud mengingatkanmu pada masa lalu itu. Sekarang hapus air matamu dan jangan bersedih lagi. Percayalah! Bundamu pasti sudah tanang di alamnya sana.” Kata Maudy menenangkan sahabatnya.

“Iya, makasih ya Maudy. Awalnya aku memang tak mempercayai semua yang terjadi. Tapi sekarang aku sudah dewasa, aku sudah tau kalau kematian itu adalah nyata dan sangat menyakitkan. Sekarang aku bisa memahami semuanya, mungkin ini adalah yang terbaik bagi Bunda. Aku juga percaya Allah pasti melapangkan jalan Bunda. Hiks…hiks…”

“Benar Salsa, aku juga percaya, Ibu Indayah adalah orang yang baik. Lagiankan sekarang kamu sudah dapat ibu baru, kamu harus bisa jalani semua ini.”

“Ya, karena ini takdirku. Awalnya memang sakit. Tapi sekarang aku sadar, aku beruntung nendapat ibu pengganti yang baik padaku. Walau aku tak kan pernah bisa lupakan Bunda dan posisinya tak tergantikan oleh yang lain dihatiku, aku akan selalu berusaha untuk jadi anak yang baik, yang berbakti pada Bunda, Ayah dan Ibuku. Aku ingin bahagiakan mereka semua Maudy.”

“Kamu pasti bisa Salsa. Pasti!” dukung Maudy.

Salsa pun tersenyum. Lalu memeluk sahabatnya. Tak lama setelah itu keduanya bangkit dari duduk dan berjalan beriringan meninggalkan taman kota lalu menuju ke arah pemakaman untuk menziarahi makam Ibu Indayah. Sesekali terdengar suara tawa dari keduanya.

“Sa, ternyata dibalik senyum dan keceriaanmu, kau menyimpan suatu masa lalu yang sangat menyedihkan. Tapi sepertinya aku melihat suatu semangat baru dalam hidupmu. Berjuanglah meraih mimpimu kawan!!!” gumam Maudy sambil memandang ke arah Salsa. Sedangkan Salsa memandang lurus ke arah depan. Ia juga sedang bergumam. “Bunda…. Ini aku Salsa putrimu, aku janji aku akan jadi anak yang baik, berbakti dan insyaallah bisa menjadi anak yang sholihah yang akan mendoakanmu selalu. Dan aku ingin suatu saat nanti, aku bisa menjadi seorang penulis yang akan menulis semua tentangmu dengan tinta emas milikku. Aku merindukanmu Bunda……

**********

Check Also

Cerpen: Dua Lajur

Oleh: Lucky Tjatra Brilian Sepagian ini aku berada di ruangan putih. Kosong. Tak ada apa …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com