Home / Telaah Umum / Mengulik (Apa) Urgensi Lingkungan dan Maharah Intajiyah (?)
Salah satu metode latihan santri dalam berbahasa Arab dan Inggris

Mengulik (Apa) Urgensi Lingkungan dan Maharah Intajiyah (?)

Oleh: Afrizal Nur Ali S.*

Lingkungan merupakan unsur terpenting dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan pembelajaran bahasa arab melalui lingkungan berbahasa adalah pendekatan yang pada lingkungan disekitar kita yang disetting sedemikian rupa sehingga atmosfir bahasa arab bisa terbentuk. Hal ini serupa dengan pendapat kaum behavioris bahwa bahasa itu diperoleh karena “disuapi” dan bahasa itu berasal dari luar (lingkungan social). Lingkungan pembelajaran bahasa diterapkan sebagai alternatif dalam pembelajaran bahasa sebagai alat komunikasi karena berbagai metode pembelajaran bahasa yang diterapkan sebelumnya hasilnya kurang maksimal.

Pendekatan lingkungan berbahasa berusaha meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik, jika apa yang dipelajari diangkat dari sebuah lingkungan, dan dalam kaitannya ini menyangkup apapun yang terdapat dilingkungan seharusnya memiliki indikasi bahasanya.1 Hal ini terbukti bahwa kegiatan pembelajaran bahasa lebih menarik dan tidak membosankan pembelajar bahasa dengan duduk berjam-jam di dalam kelas, lingkungan juga menyediakan sumber yang lebih kaya, sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan social, lingkungan alam dan lain-lain.

Berawal dari Pavlov sebagai pelopor kelompok behavioris, yang kemudian dilanjutkan oleh Edward l. throndike dengan teori efeknya yang kemudian disusul oleh B.F. skinner dengan teori reinforcement (penguatan) menganggap merekayasa lingkungan adalah cara yang paling efektif dalam mencapai kemahiran berbahasa. Kelompok ini terkenal dengan teori “stimulus-respond-penguatan” (S-R-P). Begitupun dalam menciptakan lingkungan berbahasa, didalamnya harus ada stimulus-respond-penguatan yang menjadikan lingkungan berbahasa menjadi hidup. Selama pembelajar belum mendapat stimulus, maka selama itu juga pembelajar bahasa belum bisa melakukan aktivitas respon.2 Menurut abdul hamid bahwa peran lingkungan berbahasa sebagai stimulus menjadi dominan dan sangat penting didalam membantu proses pembelajaran kedua , karena proses pemerolehan bahasa adalah proses pembiasaan. Oleh karena itu, semakin sering pembelajar bahasa merespond stimulus kebahasaan maka semakin memperbesar kemungkinan aktivitas pemerolehan bahasa.

Pembelajaran bahasa arab melalui lingkungan dipandang penting karena pembelajaran natural jauh lebih efektif dari pada pembelajaran formal3, hal ini merupakan keniscayaan yang bisa kita fahami lewat pembelajar non arab ketika mereka study dikawasan gurun maka dalam waktu singkat sanggup mempelajari bahasa arab, namun ketika disandingkan dengan pembelajaran bahasa arab di Indonesia, mereka belajar bahasa arab mulai dari kecil sampai tingkat mahasiswa, mereka belum mampu menguasai bahasa arab, oleh karena itu rekayasa lingkungan berbahasa dibentuk, dengan asumsi pembelajar bahasa akan segera menguasai bahasa yang sedang dipelajarinya dengan cepat. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran bahasa arab dengan menghidupkan suasana lingkungan berbahasa merupakan cara yang tepat dan cepat dalam mempejari bahasa.

Bahasa sebagai alat komunikasi membutuhkan beberapa keterampilan, yaitu keterampilan berbicara, mendengar dan menulis. Kesemua maharoh tadi diklasifikasikan menjadi dua keterampilan besar, yaitu keterampilan resptif (keterampilan menyimak dan mendengar) dan keterampilan produktif (Rusdi Tu’aimah, Abr. Ibn Ibrahim, Idho’at) (keterampilan berbicara dan menulis). Keterampilan bicara adalah salah satu kemahiran berbahasa yang paling penting dalam belajar bahasa khususnya bahasa arab, karena bahasa adalah ujaran dan ujaranlah yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan. Walaupun keterampilan dalam berbahasa meliputi empat kemampuan yaitu: keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.

Pada praktiknya keterampilan berbicara adalah keterampilan digunakan setiap saat dalam kehidupan ini. Dalam pembelajaran bahasa arab, peserta didik diharuskan memiliki keterampilan berbicara yang pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus system bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan pada orang lain.4

Berawal dari asumsi bahwa bahasa adalah ujaran yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913), mula bahasa adalah ujaran (lisan) sehingga guru harus mengajarkan keterampilan bahasa secara bertahap, mulai dari menyimak (istimak), berbicara (kalam), membaca (qiro’ah) dan menulis (kitabah). Dalam perspektif pedagogik, pembelajaran bahasa diawali dengan penguasaan hal-hal yang terdekat dengan kehidupan pembelajar bahasa. Belajar bahasa seharusnya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai sarana berkomunikasi digunakan dalam beragam fungsi dan disajikan dalam konteks yang bermakna , tidak dalam bentuk kalimat lepas sehingga mampu mewujudkan orientasi belajar-mengajar berbahasa yang berdasarkan tugas dan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.

Kamal Ibrahim badri menyebutkan ada lima prinsip yang diketahui oleh pengajar bahasa asing. Pertama, bahasa adalah bicara bukan menulis. Pembelajaran bahasa asing mengutamakan keterampilan menyimak (kalam) dan berbicara, lalu membaca dan menulis. Pengucapan huruf hijaiyah harus dibiasakan terlebih dahulu untuk menghindari pengaruh bahasa ibu. Kedua, bahasa adalah system pembiasaan. Pembelajar bahasa asing diarahkan pada pembiasaan motoris dan reflek, bukan pada pembuatan kalimat, misalnya dengan penuturan secara imitasi dan menghafal. Ketiga, mempelajari penggunaan bahasa bukan mempelajari tentang bahasa. Pembelajar bahasa dilatih menggunakan bahasa sesuai dengan objeknya. Pemberian kosa kata (mufrodad) sangat diperlukan sesuai dengan konteks. Keempat, bahasa adalah apa yang dikatakan secara aktif. Pembelajar dibekali dengan ungkapan resmi (fusha) dan tidak resmi (Amiyah), serta pola kalimat dan contohnya yang bisa dipergunakan dalam bicara, bukan materi perbedaan aksen (lahjah) antara daerah (arab) dengan daerah lain secara mendetail. Kelima, bahasa dalam penuturannya berbeda-beda. Pengucapan, susunan, dan semantic bahasa ibu itu berbeda-beda dengan bahasa asing. Karena itu, pembelajaran bahasa asing untuk pemula mengharuskan adanya pengulangan ucapan huruf agar tidak terpengaruh dengan bahasa ibu sehingga pembelajar bahasa dapat berbahasa secara otomatis dan reflex seolah-oleh sebagai bahasa ibu sendiri.5

Bahasa yang berguna untuk berkomunikasi tidak hanya menggunakan keterampilan berbicara saja, tetapi bisa juga dengan keterampilan menulis. Keterampilan menulis merupakan kegiatan komunikasi yang dilakukan tanpa didukung oleh tekanan suara, nada, mimik, gerak gerik dan tanpa situasi seperti yang terjadi pada kegiatan komunikasi lisan. Bahasa tulis dapat mengungkapkan banyak hal dengan cara leluasa tetapi penuh dengan berbagai keterkaitan seperti teknis penulisan, kaidah bahasa, kelogisan, koherensi, isi, ejaan dan diksi. Dengan demikian keterampilan menulis adalah keterampilan berbahasa yang kompleks karena tidak hanya menyangkut penyusunan gramatikal atau retorikal, tetapi juga menyangkut penguasaan elemen -elemen konseptual dan penilaian.

Keterampilan menulis seperti halnya keterampilan membaca adalah keterampilan komunikatif dalam bahasa tulis, dan bisa disebut keterampilan produktif seperti halnya keterampilan berbicara. Tidak sedikit pembelajar bahasa arab hanya bisa berkomunikasi dengan menggunakan ketrampilan berbicara tetapi lemah dalam ketrampilan menulis. Begitupun sebaliknya, banyak pembelajar bahasa dari pondok salaf yang mahir menulis dan struktur kalimat tapi lemah dalam penguasaan keterampilan berbicara. Dalam menulis bahasa Arab, ada dua aspek kemampuan yang harus dikembangkan, yaitu kemampuan teknis dan kemampuan ibdai (produksi), yang dimaksud dengan kemampuan teknis adalah kemampuan untuk menulis bahasa Arab dengan benar, yang meliputi kebenaran imla’ (tulisan), qawaid (susunan), dan penggunaan alamat al-tarqim (tanda baca). Sedangkan yang dimaksud dengan ta’bir ibdai adalah kemampuan mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan perasaan ke dalam sebuah tulisan berbahasa Arab dengan benar, logis dan sistematis.

Maharat kalam dan maharat kitabah dalam kebahasaan saling berkaitan erat. Seperti yang telah diungkapkan oleh ferdinad de sauser bahwa bahasa tersusun dari 3 komponen penting, yaitu ujaran, morfologi dan gramatikal. Keseluruhan bahasa didunia mempunyai kesamaan dari segi system suara yang diterjemahkan kepada lambing-lambang berdasarkan gramatikal tertentu. Lambang tulisan ini nanti yang menjadi salah satu bentuk komunikasi lain disamping maharat al-kalam. Disamping itu, tulisan akan menjadi pusat peradaban bagi manusia itu sendiri.6

Seperti yang telah kita ketahui bahwa, dalam maharoh intajiyah itu meliputi maharoh kalam dan kitabah. Maka, untuk mengajarkan keterampilan produktif/ intajiyah kepada pembelajar bahasa dibutuhkan metode-metode yang tepat. Namun pada kenyataannya, pengajar bahasa gagal untuk mengajarkan bahasa terkait atau bahasa kedua kepada pembelajar bahasa. banyak anak yang belajar bahasa arab mulai dari jenjang madrasah ibtidaiyah sampai jenjang universitas mereka belum mampu menguasai bahasa arab, kenyataan ini didukung dengan minimnya pembelajar muslim yang mampu menulis teks-teks arab, tidak mampu bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan penutur bahasa arab asli (native speaker). Kasus serupa juga dialami di beberapa pondok pesantren di Indonesia yang belum mampu mengantarkan para pembelajar bahasa untuk lancar dan faham secara lugas ketika dihadapkan dengan mitra tutur native speaker.

Untuk menanggulangi masalah seperti ini perlu adanya metode alternative dalam pembelajaran bahasa, yaitu dengan membuat lingkungan artifisial berbentuk boarding school yang mana didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang mewajibkan seluruh civitas yang hidup didalamnya menggunakan bahasa arab sebagai sarana komunikasi. Lingkungan artifisial ini sebagai mana teori behaviorisme diatas dan juga dengan teori kognitivisme (LAD) language accuqisisi device .memang minat adalah factor utama yang berperan dalam mencapai proses internal anak. Namun seharusnya kita tidak melupakan bahwa lingkunganlah yang mestimulus proses-proses internal itu. Lingkungan akan menyediakan berbagai materi terhadap pemerolehan bahasanya dimana ia berada.7

___________

براون، دوجلاس، أسس تعلم اللغة وتعليمها، شارع البستاني بناية اسكندراني،، 1994،ص 49-51

نايف خرما وعلى حجاج اللغات الأجنبية تعليمها ونعلمها صدرت السلسلة في يناير 1978، ص 54-56

Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, PT Remaja Rosydakarya, Bandung, Cetakan keempat, April 2014, hal. 49-51.

الدكتور أحمد عبده عوض، مداخل تعليم اللغة العربية، جامعة أم الفري، ص 22-23

Ahmad Muradi, Pendekatan Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Arabiyat, 30 Mei 2014,hal. 30

فخري خليل النخار،الأسس الفنية الكتابة والتعبير ص 71-72

نايف خرما وعلى حجاج اللغات الأجنبية تعليمها ونعلمها صدرت السلسلة، ص 56

*Penulis merupakan wakil lurah Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal

Check Also

Hiruk Pikuk Guru Honorer: Mengharap Hujan Emas di Negeri Sendiri

Oleh: Afrizal Nur Ali Syahputra, S.Pd. Mengajar adalah kegiatan yang mulia. Tugas ini diemban oleh …

Leave a Reply

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com