Home / Al-Maghfurlah KH. Tohir Wijaya (1927-1999)

Al-Maghfurlah KH. Tohir Wijaya (1927-1999)

Pendiri Pondok Pesantren al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar dan Kedoya Jakarta Pusat

Cita-citanya menjadi ulama, sesuai dengan keinginan ayahnya, K.H. Sarkun, yang mendidiknya dengan keras. ”Masih berusia empat tahun, saya sudah diajari salat dan mengaji,” tutur anak ketiga dari tujuh bersaudara ini. Tohir Wijaya menghabiskan masa kecilnya di pondok pesantren.

Almaghfurlah KH. Tohir Wijaya
Almaghfurlah KH. Tohir Wijaya

Ketika menamatkan SD di kota kelahirannya, Blitar, Jawa Timur, ia dikenal sebagai anak yang paling menyenangi pelajaran sejarah. Gemar membaca buku cerita kepahlawanan. Tokoh yang dikaguminya Teuku Umar. ”Pejuang yang berjiwa penuh keimanan,” komentarnya.
Kembali menjadi santri, Tohir berpindah-pindah pondok pesantren. Antara lain di Tebuireng, Peterongan, Rejoso, dan Tremas, semuanya di Jawa Timur. Ia mendalami tafsir Alquran dan hadis, juga mempelajari dakwah dan sejarah perkembangan Islam.

Hasil perkawinannya dengan Hj. Munawarah mendapatkan enam anak yaitu; 1. Hj. Astutik Hidayati, Hj. Asmawati, Hj. Nur Saida, H. Jauhar Wardani, Hj. Reni Rahmawati, Hj. Rina Laila Wati.

Kemahiran KH Thohir Wijaya dalam berdakwah cukup menonjol, sehingga sering dia berkeliling dari kampong satu ke kampong yang lain dalam rangka memenuhi undangan pengajian.

Tohir lantas mewakili Masyumi di DPRD Blitar, 1946. Di sini ia mulai lebih mengenal organisasi, politik dan merasa perlu ikut kursus kilat manajemen di Yogyakarta, 1949. Sementara itu, ia tetap giat berdakwah.Tatkala menjadi dosen di IAIN Sunan Kalijaga, Tohir masuk Golkar, 1969. ”Saya tertarik ingin menekuni bidang pendidikannya,” tutur ulama ini. Segera mendirikan Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (Guppi), ia menjadi ketuanya yang pertama.

Berperawakan tinggi 159 cm dengan berat 59 kg, dan rambutnya kini sudah beruban. Istrinya, Hajah Munawarah, wafat pada 1985. Salah seorang di antara enam anaknya (Drs, KH Mahmud Hamzah dab HJ AStutik) yang jadi penerus menjadi pengasuh pondok pesantren Al-Kamal, yang didirikan kakek enam anak ini di Blitar.

Biasa berkemeja putih, Tohir kemudian terpilih sebagai Ketua Majelis Dakwah Islam (MDI), yang didirikan Golkar pada 1978. ”Tujuan MDI untuk berdakwah mengenai pembangunan, terutama membangun faktor manusianya,” katanya. Ia sering berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia, untuk berdakwah atau menatar tiap cabang MDI. Dalam muktamar MDI ke-2 di Jakarta, 1984, Tohir kembali terpilih menjadi ketuanya untuk kedua kali.

Di samping sebagai anggota Dewan Pembina Golkar Pusat, belakangan ia menjadi Ketua Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, yang didirikan pada 1983. ”Anggota pengurusnya termasuk Pak Harto dan Ibu Tien,” ujarnya. Yayasan ini konon sesudah dua tahun mempunyai deposito di bank sebesar Rp 15 milyar. Pengagum Rhoma Irama ini di kala senggang senang mendengarkan musik dangdut. Ia menggemari masakan Padang. Olah raganya jalan kaki seusai sembahyang subuh. Duda berusia 58 tahun ini masih tampak segar. ”Bila ada wanita yang mau,” katanya, ”saya mau menikah lagi.’

Perjuangan al-maghfurlah KH Thohir widjaya berakhir pada tahun 1999 karena sakit yang ia dera terus menggerogoti kesehatannya, yang pada akhirnya mengharuskan dia menghadap Allah Swt dalam Usia 72 tahun.

Banyak pelajaran yang di ajarkan dalam filosofi Hidupnya, di antaranya adalah:

1). Penampilannya yang selalu necis dan praktis dalam setiap keadaan. Untuk ukuran zamannya mungkin itu sebagai sesuatu yang controversial, dibalik perilaku para Kyai yang kala itu masih sarungan, Dia sudah memakai celana, jas dan berdasi.
2). Berpolitik sebagai sarana menegakkan ajaran Allah di Muka Bumi. Dahulu ketika dia masuk Golkar banyak tokoh Islam yang mencibir dia, bahkan memojokkannya. Tetapi sekarang hasil jerih perjuangannya dapat dirasakan. Misalnya bersama-sama H Muhammad Soeharto membangun masjid amal bakti muslim pancasila seluruh Indonesia. Pondok pesantren al-kamal Blitar dan Jakarta yang sampai sekarang masih eksis dan lain-lain.
3). Perjuangan tanpa pamrih. Menurut para putra putrinya, tidak pernah al-Maghfurlah KH. Thohir Wijaya Menggunakan jabatan dan kekuasaannya untuk kepentingan pribdadi dan kelurgannya. Semua perjuangannya demi santrinya dan umat Islam keseluruhan.
4. Berani menentang arus demi kebenaran yang diyakininya. Ini terbukti ketika beliau harus masuk Golongan karya demi tranformasi ide-ide perjuangan Islam nya melalui politik. Walaupun para koleganya, tokoh-tokoh Islam yang lain berseberangan di Partai lain, juga taruhan dicaci maki, rumahnya dilempari kotoran hewan dan lain tangangan yang lain.
Nama :
K.H. TOHIR WIJAYA

Lahir :
Blitar, Jawa Timur, 9 September 1927

Agama :
Islam

Pendidikan :
– SD, Blitar
– Pesantren Lirboyo, Pesantren Tebuireng, Pesantren Pondok Rejoso, Pesantren Peterongan, Pesantren Pondok Tremas, Jawa Timur

Karir :
– Anggota DPRD Masyumi di Blitar (1946-1949)
– Dosen IAIN, Yogyakarta (1969)
– Ketua GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam)
– Anggota DPRD Pusat Fraksi Golkar (1977-1999)
– Ketua Umum MDI (Majelis Dakwah Islam) (1978-1999)
– Ketua Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (1983-1999)
– Anggota Dewan Pembina Golkar Pusat

– Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren al-Kamal Blitar dan Jakarta (1982-1999)

Putra-Putri:

HJ. Astutik Hidayati
Hj. Asmawati
Hj. Nursaidah H
H. Jauhar Wardani
Hj. Reni Rahmawati
Hj. Rina Laila Wati

Alamat Rumah
Kunir Wonodadi Blitar

Alamat Kantor :
PP al-Kamal Blitar Jatim, Kedoya Jakarta Pusat

Penulis: Dr. Asmawi Mahfudz, M.Ag Penerus PP al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar

%d bloggers like this:

Powered by themekiller.com